Senin, 28 Februari 2011

Mic dan Amplifier

Benda yang sangat akrab dengan MC (panatacara) adalah mic dan pengeras suara (amplifier). Suara kita bisa diolah dan dikuatkan sekian ratus kali atau sekian ribu kali lipat kerasnya, dan dapat diperindah secara berlipat ganda. Jadi tak perlu berkecil hati dengan suara yang kita miliki, walau biasanya kita tak bisa berteriak keras, kalau pakai mic dan amplifier kita akan jadi mampu. Walau suara kita tidak merdu seperti suara penyanyi, tetapi efek-efek audio sound system akan membuat suara kita jadi lebih bagus dari aslinya. Yang kita perlukan adalah : kemampuan memanfatkan mic dan amplifier.
Untuk meyakinkan diri sendiri, saat ada kesempatan, coba saja kita meniup sambil kita dengarkan, tanpa mic dan amplifier mungkin suara tiupan hanya telinga kita sendiri yang dengar, tetapi kalau kita tiup mic pasti akan menimbulkan suara gemuruh di speaker yang bisa didengar ratusan atau bahkan ribuan orang.
Karena mic dan amplifier mampu mem-boost suara kita maka saat bicara melalui mic kita tak perlu teriak, tak perlu pula ajian-ajian yang konon bikin kita berwibawa macam pendekar silat. Ajian kita hanyalah pandai memanfaatkan mic dan amplifier. Usahakan kita bicara fasih, kata demi kata kita ucapkan secara detil, rapi, dengan intonasi yang tepat dan betul-betul masuk mic, betul-betul secara rapi diterima oleh spul mic. Mungkin kita perlu mengolah bunyi di tenggorokan agar lebih bagus lagi, kita letakkan tekanan bunyi di antara tenggorokan dan pangkal hidung, tetapi tidak dengan membesarkan leher, sehingga suara yang dihasilkan menjadi kulem dan ndekung. Dengan banyak berlatih mungkin akan banyak surprise yang kita terima, banyak yang akan tidak menduga bahwa kitalah yang bicara bagus di speaker itu.
Kebanyakan orang akan grogi saat mulutnya berdekatan dengan mic. Lihat saja efek reaksi orang-orang yang disodori mic, akan langsung kelihatan orang itu berbakat bicara di depan umum atau tidak. Orang yang tak berbakat akan cenderung enggan, atau malah takut atau minder, sebaliknya orang yang berbakat malah akan tertarik untuk main-main. Anak-anak bisa diketahui bakat keartisannya dengan disodori mic, anak yang pemalu akan menjauh, tetapi yang bermental bagus dan berbakat jadi public figur mungkin akan senang dan mulai bicara, walau kata-katanya mungkin cuma "halo", "tes tes tes", "satu dua tiga".
Saat kita tampil bicara di depan umum, pada tahap awal mungkin secara alami kita grogi, itu karena diri kita sedang membuat penyesuaian, kalau sudah sinkron grogi akan hilang. Kita beruntung bahwa kata-kata awal pidato kita adalah salam, ayat dan ajakan syukur kepada Tuhan. Itu adalah kata-kata yang hanya berupa hafalan. Pada saat itu diri kita sedang berproses menyesuaikan diri, ketegangan berangsur berkurang, grogi menghilang, ingatan mulai jernih kembali, keberanian mulai timbul kembali, dan biasanya pada saat itu petugas sound system sedang berjuang memperbaiki kualitas suara kita di speaker dengan menyesuaikan stelan mixer. Karenanya lalui saja saat-saat awal bicara kita dengan salam assalamu’alaikum yang tulus, bacaan ayat dan doa dihayati, agar prosesnya mengalir alami, membuka peluang kepada potensi diri kita untuk muncul, memainkan peranan dengan segala kelebihan dan keindahannya, biarkan Tuhan mengalirkan segala kehebatanNya melalui diri kita.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 engkang sampun komentar:

Poskan Komentar