Selasa, 31 Januari 2012

Pangarsanipun dan Panjenenganipun

Salah satu kebiasaan masyarakat sekitar saya di Kab. Magelang, Jawa Tengah adalah saat berpidato menggunakan kata PANGARSANIPUN, misalnya
  • "pangarsanipun Bapak Lurah ingkang kula hormati, pangarsanipun Bapak Kyai Ahmad ingkang kula mulyaaken,...." 
  • "wonten pangarsanipun Bapak Ketua RT ingkang kula hormati....."
Hal ini telah menjadi kebiasaan kuat di tengah masyarakat. Setiap orang yang belajar pidato bahasa Jawa di kampung hampir pasti pernah mempraktekkannya.

Seorang guru saya pernah membahas hal ini dalam satu latihan (gladhen) bahasa Jawa.
Beliau menerangkan bahwa penggunaan kata pangarsanipun tersebut adalah KELIRU atau SALAH. Penggunaan kata pangarsanipun dalam pidato tersebut adalah salah kaprah. Dikatakan salah karena tidak sesuai dengan kaidah sastra Jawa, dan dikatakan kaprah karena sudah lumrah dilakukan orang banyak.

Mengapa kata pangarsanipun itu dikategorikan salah? Karena kata pangarsanipun berasal dari kata dasar pangarsa yang berarti ketua atau pemimpin. Jadi jika dikatakan "pangarsanipun almukarrom Bp Kyai Ahmad" maka berarti "ketuanya almukarrom Bp Kyai Ahmad". Menjadi janggal bukan? Tapi berhubung sudah kaprah maka kejanggalan itu diabaikan.

Diduga kata tersebut awal mulanya berasal dari rancunya penggunaan kata wonten ngarsanipun dan panjenenganipun. Bahwa yang benar sesuai kaidah sastra Jawa adalah :
  • panjenenganipun (=beliau), misalnya : "panjenenganipun almukarrom Bp Kyai Ahmad..." 
  • wonten ngarsanipun (=di hadapan)
  • wonten ngarsa panjenenganipun (=di hadapan beliau).
Contohnya demikian :
"wonten ngarsanipun Bp Lurah ingkang pantes sinudarsana, wonten ngarsanipun almukarrom Bp Kyai Ahmad ingkang kula dhereki....."
"panjenenganipun Bp Lurah ingkang pantes sinudarsana, panjenenganipun almukarrom Bp Kyai Ahmad ingkang kula dhereki....."
"wonten ngarsa panjenenganipun Bp Lurah ........."

Barangkali dulu yang menirunya agak-agak salah dengar sehingga saat tampil menjadi mengatakan :
"pangarsanipun Bp Lurah ingkang pantes sinudarsana, pangarsanipun almukarrom Bp Kyai Ahmad ingkang kula dhereki....."
Kesalahan ini kemudian berlanjut dan berlanjut, meluas, turun-temurun, berpuluh-puluh tahun berlangsung terus sampai sekarang, hingga membentuk budaya yang salah kaprah.
Wallahu-a'lam.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 engkang sampun komentar:

Poskan Komentar